Kamis, 27 Januari 2011

Relationship

Pada suatu pagi, di tengah kesibukannya di kantor, Nei tiba-tiba mendapat suatu pengertian mendalam tentang apa yang disebut dengan relationship. Bercermin pada pengalamannya, dia kemudian bersabda :   

............Mungkin memang benar! Tidak ada yang namanya 'relationship' dalam setiap hubungan percintaan non-heterosexual...............

Karena sejak usia muda setiap anak non-heterosexual sudah harus mengalamai patah hati ditolak oleh cinta pertama mereka dari lelaki yang bernama 'Ayah'.

Semakin kuat mereka berusaha mendapatkan cinta dari lelaki itu, semakin terluka pula sang anak. Penolakan secara emosi dan fisik dari lelaki itu telah meninggalkan bekas cacar yang tak kunjung sembuh sampai sang anak dewasa.

Wajarlah kemudian dalam menjalani hubungan percintaan, tanpa mereka sadari diam-diam mereka masih terus berusaha untuk mendapatkan cinta dan pengakuan dari sang ayah dalam wujud lelaki lain. Sebagian besar mereka akan gagal menemukannya. Patah hati dan kekecewaan yang telah terakumulasi sekian lama akan membatukan hati. Mereka akan berhenti saat itu juga. Memilih 'pulang'.

Sebagian kecil lagi akan terus berkelana. Dengan sisa harapan berharap masih bisa memberi makna pada sebuah kata yang bernama 'relationship.' Namun pada puncak kekecewaan, mereka mendapatkan dirinya seolah-olah berada di ujung jalan buntu tanpa ada pilihan jalan keluar.

Saat itu mau tak mau mereka akan mabuk seperti Nei, berlagak seperti filsup bijaksana sembarangan mengambil kesimpulan :

" Tidak ada yang namanya 'relationship' dalam setiap hubungan percintaan non-heterosexual...............Yang ada hanyalah keinginan yang mencapai titik frustrasi untuk dicintai dan untuk diterima oleh cinta pertamanya yang menguap seperti embun "

Minggu, 23 Januari 2011

Mau Bertanya, Dok

Dengan pemikiran bahwa selama ini Anda selibat. Tidak merokok. Tidak pernah memakai obat. Bukan mantan penghuni lembaga kemasyarakatan. Kalau pun ada kesempatan untuk berejakulasi, tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh atau kinky seperti : ......., ........,........, ( silakan isi sendiri spasi kosong tersebut ).  Perlukah Anda jujur dan OUT kepada petugas saat Anda mendonorkan sperma?

Nei suka jalan-jalan ke tempat dua orang blogger yang berprofesi sebagai dokter yang secara kebetulan juga homo. Juga ada seorang peternak bakteri yang kebetulan juga seekor nyenggat, ( ratu lebah, maksudnya ). Ingin bertanya kepada mereka secara pribadi tapi kemudian memutuskan untuk membuatnya menjadi pertanyaan terbuka sehingga orang-orang yang mengalami dilema seperti Nei bisa memperoleh sedikit pencerahan. Mungkin juga barangkali ada blogger lain yang bisa menjelaskan.

Bukan tanpa alasan ketika seorang petugas bertanya apakah Anda melakukan hubungan seksual sejenis saat Anda mau berdonor. Harus diakui kelompok yang satu ini, memang rentan terhadap AIDS sehingga untuk mempermudah proses pekerjaan, mau tidak mau mereka harus bertanya. Mungkin juga untuk menghemat biaya sehingga tidak perlu untuk melakukan total scanning terhadap semua hasil donor dari kelompok non-hetero. 

Tidak mengerti saya. Bukankah seharusnya mereka melakukan scanning menyeluruh terhadap semua donor yang mereka terima terlepas dari mana asal sperma itu? Semata-mata mempercayakan hasil isi questinaire dari pendonor cukup riskan. Jangan sampai niat baik menolong orang malah jadi mencelakakan orang lain.

Jadi, bagaimana pendapat Anda? Ketika Anda mau mendonorkan sperma, haruskah Anda jujur dan OUT kepada petugas?

Weit....koreksi. Dasar om mesum. Maksud Nei di sini adalah donor darah bukan sperma.

P.S.
Adakah yang tau keberadaan bank sperma di Indonesia? Bandung, lebih bagus lagi kalau ada. Jadi benaran pingin myumbang benih. 


Jumat, 21 Januari 2011

Bosan

Semalam, penyakit itu datang berkunjung lagi. Meninggalkan rasa nyeri seperti tersengat aliran listrik yang bandel diusir pulang dengan balsem 'stop-x'. Nyeri itu merayap seperti pasukan semut. Merayap dari tulang punggung dan betah lama-lama berdiam di ujung kelingking. Diperparah lagi dengan fakta 'lube yang bernama piroxicam' itu sudah raib dari kotak persediaannya.

Untuk membelinya, Nei benar-benar tak berkutik untuk keluar rumah di tengah hujan. Sehingga dia cuma bisa pasrah menunggu nyeri itu hilang dengan sendirinya. Ditengah penantian tersebut dia merasa bosan dan bagaikan tersambar petir mendadak Nei mempunyai pengertian mendalam tentang apa makna sesungguhnya kata bosan itu.

Bosan, menurut Nei, adalah menatap langit-langit kamar berharap, di atas sana ada sepasang cicak homo kawin buat diisengin.