Men In SSS-Shorts : Rujak Banci, Mas?
Saya kehilangan kata-kata ( yang sopan ) untuk melukiskan situasi yang saya temukan minggu sore kemarin di Parisj Van Java, Bandung. Tidak berhasil juga mendapatkan gambar yang tepat untuk mewakili maksud hati saya di Flickr --- tapi situasinya kira-kira seperti gambar di atas.Ada serombongan 'too proud-cong' , jalan beriring dua berdua seperti bebek melintas di depan mata. Sebagian besar bertubuh hasil olahan dapur 'gym'. Satu dua bertubuh ceking langsing berdada pipih. Mereka semua memiliki persamaan dengan cewek Rusia seperti gambar di atas.
Mereka semua memakai celana-mini-super ketat dengan tank-top yang membuat mata saya mau ngak mau, suka ngak suka, terpaksa cuma melotot ke satu arah: selangkangan!!!. OMG...Celana super-mini-extra-ketat size SSS itu mencetak buah kedondong dengan jelas. Ketika melangkah, entah itu buah mangga gedong atau buah ketimun ( kaga tahu aku ), buah itu ikut bergerak ke kiri dan ke kanan seolah-olah hidup dan berteriak minta dijadiin bahan rujak seger.
Dua cewek yang kebetulan bersama saya, tidak bisa menahan diri untuk tidak ngakak histeri. Saya yakin mereka juga melihat ke arah yang sama sehingga terjadi pembicaraan seperti ini.
"Awas lo, kalo berani coba-coba pakai yang kaya gituan..."
"Emangnya kenapa? Kalau gw punya bodi bagus ( dan buahku kesemak ranum ) pasti gw pake."
"Ya. Nga oke, aja."
"Cewe juga suka pake gituan kan? Boleh, dong giliran cowo."
"Kaga sama lagi...cewek kan nga punya tonjolan...Risih tau ngeliatnya."
Catat!!! Beda cewe sama cowo pake celana pendek extra mini terletak pada "tonjolannya," dan straight girls hate it. Giliran saya yang ngakak tapi kaga pake histeri. Dari celana terus mengalir ke masalah cong yang lebih berat.
"Mereka itu egois.Tidak harus kan, mempertontonkan ke-cong-an mereka secara vulgar seperti itu? Bagaimana perasaan ibu atau saudara perempuan mereka kalau kebetulan melihatnya."
Pernyataan singkat tersebut terasa menohok ulu hati. Selama ini kita selalu mempermasalahkan perasaan kita sendiri. Pernahkah terpikir ada perasaan orang lain yang harus kita pelihara juga? Kita bisa menerima keadaan kita, tapi perlukah sampai harus menyakiti hati orang lain dengan tingkah kita?
Karena itu saya mengerutkan kening melihat "histerical" cong in action. Tidak bisakah kita bertingkah seperti seorang lelaki apa adanya ( karena bagaimana pun kita adalah lelaki yang sempurna. Terlepas dari anggapan orang lain ) sambil menjaga perasaan orang lain juga.
Pernahkah kepikiran bahwa selama ini orang menolak untuk mengakui keberadaan cong sebenarnya juga karena tingkah kita yang over-acting itu? Mereka tidak membenci cong ( demikian pengakuan dua orang cewe yang bersamaku itu ) tapi risih melihat gay yang super duper in action seperti cong yang memamerkan aneka buah-buahan dibalik celana pendek???
"Rujak banci, Mas..."
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
setuju sih gw juga gak terlalu suka yang overly dressed
bukannya mendatangkan respect utk gay malah mendatangkan cemooh
Ihhh pengen datangin trus bilang "situ oke??"
paling juga bott aja pake pamer2 titit
@malachi : setuju, bro. mari budayakan batik, ops, pakaian sopan maksudna...hehehea
@Lucky : sesama cong tidak boleh memperbandingkan titit...
Poskan Komentar